Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘polemik’ Category

dikutip dari LKHT – FHUI, tulisan Edmon Makarim tentang Kesalahpahaman dan Tudingan Terhadap UU ITE:

Selanjutnya tentang pemidanaan yang dituding lebih kejam dari KUHP, adalah karena tidak memahami bahwa keberadaan konsep pidana dalam UU ITE yang dapat dikatakan merupakan delik yang dikwalifisir sehingga konsep umumnya akan mengacu kepada KUHP namun pemidanaannya tentunya akan lebih berat karena dengan kemampuan intelektual yang lebih tinggi melalui sistem elektronik, seseorang malah melakukan tindak pidana. Hal ini adalah konsekwensi logis dari sesuatu ketentuan hukum yang bersifat lebih khusus.

bagi saya, tulisan yang saya tebalkan di atas adalah sebuah bentuk diskriminasi. diskriminasi ini berdasarkan asumsi bahwa Informasi dan Transaksi Elektronik hanyalah untuk orang-orang yang kemampuan intelektualnya lebih tinggi. kalau pendapat ini diungkapkan di tahun 90-an, sewaktu internet hanya bisa diakses oleh sangat sedikit orang indonesia, hal ini masuk akal. namun kita sudah hidup di tahun 2009, di era teknologi informasi. jika anda punya telpon genggam, anda bisa mengakses internet! tukang sayur yang berjualan di kompleks perumahan tempat tinggal saya punya nomor telpon genggam yang bisa dihubungi untuk memesan langsung dagangannya. bahkan para supir di kantor saya sudah mulai memiliki blackberry!

belum lagi sistem transaksi elektronik yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan, seperti produk BCA kartu Flazz, yang bisa dipergunakan di SPBU pertamina maupun di toko swalayan kecil alfa, itu membuat teknologi informasi dan transaksi elektronik makin populer dan makin mengaburkan batasan “kemampuan intelektual yang lebih tinggi” ini. andai asumsi ini tetap dipertahankan, ini sama saja dengan mendukung adanya digital divide di indonesia. saya hanya ingin menambahkan, UUD 45 yang jauh lebih sakral ketimbang UU ITE bisa diamandemen, janganlah terlalu alergi terhadap permintaan perubahan pada UU ITE ini.

Read Full Post »

name threehari ini saya lihat cukup banyak yang ikut gerakan bebas rokok. dari planet terasi, ini beberapa di antaranya:

saya sendiri tidak ikut, lebih karena memang tidak mau sekedar ikut-ikutan. saya bukan perokok, dan tidak suka terkena asap rokok, dan juga pernah menulis sentimen tentang rokok. walaupun begitu, saya mengaku dulu sewaktu kuliah pernah merokok, namun berhenti sejak tingkat 2 karena memang tidak kuat merokok, tiap kali mencoba merokok saya langsung merasa mual dan kembung.

saya juga setuju bahwa merokok itu berbahaya bagi kesehatan. saya tadinya juga setuju bahwa merokok pasif (disebut juga sebagai SHS, second hand smoke atau ETS, enviromental tobacco smoke) juga berbahaya, sampai doni di milis id-gmail menunjukkan artikel name three yang ditulis oleh dave hitt. doni juga menuliskan hal yang sama sebagai komentar di artikel priyadi.

inti dari tulisan dave hitt adalah, bersikaplah kritis ketika anda sedang dicekoki angka statistik dan kesimpulan dari hasil penelitian, karena bisa jadi ada fakta-fakta yang secara sengaja tidak diungkapkan atau sedikit dimodifikasi untuk mendukung tujuan semula. dan topik yang dibahas oleh dave hitt adalah, penyebutan angka bahwa sekitar 63 ribu orang setiap tahunnya meninggal akibat SHS. kalau memang sedemikian banyak yang meninggal… tentunya sangat mudah menyebutkan 3 nama orang yang meninggal akibat SHS. dan ternyata sampai saat ini tidak ada yang bisa menyebutkan 3 nama orang yang meninggal akibat SHS.

coba kita cuplik tulisan priyadi:

Penelitian ilmiah tentang bahaya perokok pasif telah dilakukan selama lebih dari 20 tahun. Tidak ada keraguan bahwa merokok secara pasif sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, menyebabkan kanker dan banyak penyakit pernafasan serta kardiovaskuler pada anak-anak serta orang dewasa, dan tidak jarang mempercepat kematian.

di dunia wikipedia, tulisan di atas tergolong weasel words.

paragraf berikutnya:

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berkesimpulan bahwa asap rokok, sekecil apapun jumlahnya, tetaplah berbahaya. Rekomendasi WHO tentang hal ini mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok adalah dengan memberlakukan peraturan 100% bebas asap rokok bagi tempat-tempat umum.

di sini priyadi menyebutkan bahwa WHO yang menyimpulkan bahwa asap rokok itu berbahaya. dave hitt rupanya juga pernah membahas penelitian pertama WHO tentang ETS, dan ini fakta yang menurut saya menarik:

  • WHO mengadakan penelitian tentang ETS dan kanker paru-paru di eropa.
  • ini adalah penelitian yang menggunakan sampling berukuran besar, yaitu 650 penderita kanker paru-paru dan 1542 orang untuk kontrol.
  • tujuan penelitian adalah untuk mencari angka resiko yang lebih presisi, lalu menemukan apa saja perbedaan dari berbagai sumber ETS, dan pengaruh ETS pada kanker paru-paru.
  • penelitian dilakukan di 12 pusat penelitian di 7 negara eropa selama 7 tahun.
  • hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik tidak ditemukan resiko yang signifikan terhadap non-perokok yang hidup bersama atau bekerja bersama perokok.
  • anak-anak yang orangtuanya perokok justru punya kemungkinan lebih kecil 22% terkena kanker paru-paru.

ad hominem

priyadi menjawab tantangan name three ini, antara lain dengan menyatakan bahwa dirinya dan ibu mertuanya adalah jawabannya, yang buat saya tidak valid karena priyadi belum meninggal. lalu beliau juga akhirnya menulis artikel khusus untuk membahas tantangan name three ini. beberapa kutipan yang menarik buat saya:

Yang membuat tantangan tersebut pertama kali adalah Dave Hitt, seorang ‘pejuang hak-hak perokok’.

waduh, priyadi sekarang main ad hominem. 🙂

ini adalah tulisan dave hitt:

Jim, I don’t smoke cigarettes. I used to, but quit, because I wasn’t comfortable with the risk. I do smoke cigars, but not a lot.

kalau kita luangkan waktu sejenak untuk membaca tulisan dave hitt, kita bisa menyimpulkan bahwa dia bukan ‘pejuang hak-hak perokok’, melainkan seseorang yang melihat keanehan pengungkapan hasil penelitian yang diusung oleh para pendukung anti rokok, terutama yang berhubungan dengan SHS. dia sendiri sangat menyadari resiko perokok aktif.

pernyataan yang menyesatkan

kembali ke tulisan priyadi:

Kesimpulannya: “Karena tidak ada yang bisa menyebutkan secara pasti siapa yang meninggal akibat merokok pasif, maka merokok pasif tidaklah berbahaya.”

tulisan priyadi di atas sangat misleading alias menyesatkan. dave hitt hanya menyarankan untuk melontarkan pertanyaan generik name three yang bisa berlaku ke sembarang hasil statistik yang mencurigakan, bukan hanya khusus membahas SHS. dalam tulisan statistics 102, dave menuliskan bahwa dalam statistik atau epidemiologi, correlation does not prove causation. sebagai contoh, semua pecandu narkoba di masa kecilnya ternyata minum susu, relasi ini tidak bisa dipakai untuk membuktikan bahwa ternyata anak kecil yang minum susu setelah besar nanti akan menjadi pecandu narkoba.

mencampur-adukkan dua hal yang berbeda

Merokok pasif adalah penyebab sekunder

Merokok pasif mempertinggi resiko terkena berbagai macam penyakit. Berikut adalah peringatan yang telah kita ketahui bersama:

Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.

Artinya, merokok adalah penyebab sekunder yang mempertinggi resiko terkena penyakit tertentu. Jika seseorang meninggal dunia, dalam sertifikat kematiannya tidak akan pernah disebut “meninggal akibat merokok pasif”, melainkan “meninggal akibat kanker paru-paru” atau “meninggal akibat serangan jantung”.

pada tulisan priyadi di atas, tidak ada batasan yang jelas apakah beliau sedang membahas perokok aktif atau pasif. pada bagian merokok dapat menyebabkan kanker… itu jelas sedang membahas resiko perokok aktif, namun beliau menggunakan bahasan resiko yang sama untuk perokok pasif di tulisan selanjutnya.

tulisan yang kontradiktif

Perhatikan kata-kata ‘estimates’, ‘estimated’, ‘approximately’, ‘up to’. Perhatikan pula angka-angka tersebut tidak akurat sampai angka penting terakhir. Ini disebabkan karena angka-angka tersebut adalah hasil perhitungan statistik, dan bukan diambil dari jumlah orang yang benar-benar meninggal akibat merokok pasif.

buat yang ingin tahu apa sih perhitungan statistik / epidemiologi yang dipakai untuk menghitung angka resiko, dave hitt membuat dua tulisan yang sangat bagus untuk dibaca, statistics 101 dan statistics 102. dalam penjelasan mengenai epidemiologi, untuk bisa menghasilkan perhitungan statistik yang relatif akurat, memang harus disurvei berbagai parameter, seperti apakah benar tidak merokok, apakah benar dia sakit paru-paru dan bukan perokok, dan selanjutnya. intinya, membuat penelitian seperti ini tidak murah, tidak mudah, dan tidak cepat.

Mengapa seperti itu? Karena sulit untuk menentukan penyebab sekunder dari sebuah kematian, jika ada. Jika seseorang meninggal akibat serangan jantung, akan sulit dan sangat tidak praktis untuk menentukan apakah serangan jantung tersebut benar-benar diakibatkan merokok pasif, obesitas, faktor genetis atau hanyalah nasib yang tidak beruntung.

kalau alasannya demi kepraktisan, ya masuk akal kalau hasil penelitian tentang SHS juga ngawur, karena demi kepraktisan. 🙂

biological plausibility

Secara sederhana, kesimpulan tersebut berasal dari hipotesis bahwa asap rokok mengandung berbagai macam racun. Dari hipotesis tersebut dibuat penelitian untuk mempelajari perbedaan jumlah kematian pada kelompok perokok pasif dan jumlah kematian pada kelompok bukan perokok pasif. Sebagian besar penelitian mengatakan jumlah kematian pada perokok pasif lebih besar daripada kelompok bukan perokok pasif. Dari sini bisa dihitung estimasi jumlah korban meninggal akibat merokok pasif.

mari kita lihat pernyataan di atas dari cara pandang yang berbeda. dalam tulisan statistics 102, dave menulis tentang biological plausibility:

Does the connection make sense? The idea of smokers being more susceptible to diseases of the mouth, throat and lungs sounds plausible, but how would smoking cause colon cancer? What biological mechanism could make this happen?

Pay close attention to studies that compare the effects on “passive smokers” to the effects of primary smokers. Quite often you’ll find that illnesses are just as common (or almost as common) in the non-smokers as in the smokers. Considering that even in the smokiest environment non-smokers only inhale a fraction of a cigarette a day, such claims are not biologically plausible. Or to put it in everyday language, they just don’t make any sense.

analogi dari analogi?

Dave Hitt membuat pernyataan “Karena tidak ada yang bisa menyebutkan secara pasti siapa yang meninggal akibat merokok pasif, maka merokok pasif tidaklah berbahaya.” Dengan analogi yang sama, karena tidak ada yang bisa menyebutkan siapa yang meninggal akibat terkena meteorit, maka tidak mungkin manusia meninggal akibat terkena meteorit. Kenyataannya meteorit bisa mencapai permukaan bumi, dan dengan demikian bukan tidak mungkin mendarat tepat di seseorang.

kalimat yang saya cetak tebal sudah dibahas di atas, dan itu sudah terbukti bukan pernyataan dari dave hitt.

tapi analogi tentang meteor cukup menarik, karena kalau pakai semangat yang sama dengan gerakan anti rokok ini, kita bisa menggelar kampanye anti meteorit. ini bisa ditindak-lanjuti dengan meminta amerika meneruskan program perang bintangnya, sehingga kita bisa menembaki segala benda angkasa yang dicurigai bisa jatuh ke bumi.

penutup

saya bukannya anti pada gerakan bebas asap rokok ini, saya juga tidak suka menghirup asap rokok kok. yang saya ungkapkan adalah alasan-alasan yang secara ilmiah tidak bisa dipertanggung-jawabkan, yang sayangnya tulisan dave hitt yang banyak menjelaskan alasan ilmiahnya malah dikatakan absurd oleh priyadi. 😐

bukan berarti dave hitt sepenuhnya benar juga. dia sempat agak menjurus ke ad hominem ketika menuliskan kenyataan bahwa istilah perokok pasif pertama kali dipopulerkan oleh anak buah hitler di waktu nazi jerman berjaya, dan membandingkan para pendukung anti-rokok itu dengan nazi. namun bukan berarti semua tulisan dave hitt menjadi salah akibat pembandingan ini, sisi penjelasan ilmiahnya sangat masuk akal dan dilengkapi dengan panduan untuk mengerti ilmu statistik.

saran saya sih, check your facts. saya juga mau hidup bebas asap rokok, tapi dengan alasan yang benar dan bukan mengada-ada.

Read Full Post »

walking the path

…there is a difference between knowing the path, and walking the path.

ini adalah penggalan kalimat dari morpheus kepada neo di film the matrix.

saya teringat pada penggalan kalimat tersebut ketika membaca komentar-komentar pada tulisan priyadi tentang MoU antara pemerintah dan microsoft, karena walaupun mayoritas komentar “menyalahkan” baik pemerintah atau microsoft, namun dari 56 komentar (saat itu), 35 komentar menggunakan OS Windows XP, 1 menggunakan Windows 2003 Server, 1 menggunakan Windows Vista, sementara yang menggunakan OS perangkat lunak bebas hanya 14, terdiri dari 6 menggunakan generik linux, 3 menggunakan OpenBSD (itupun komentar dari satu orang yang sama), 1 FreeBSD, 1 Ubuntu, 1 Fedora, 1 Gentoo, dan 1 Suse. sisanya menggunakan OS proprietary seperti Mac OS X (3 komentar) dan sarana blogging seperti MovableType (1 pingback/trackback), dan ada satu yang OS-nya tidak dikenal (unknown). saya sendiri menggunakan OS proprietary Mac OS X Tiger 10.4.8.

buat saya pribadi, kalau rakyatnya sendiri masih suka pakai microsoft windows XP, ya boleh dong pemerintahnya pakai windows XP juga. yang patut disalahkan memang lemahnya penegakan hukum di indonesia, terutama HAKI, yang menyebabkan kita sebegitu mudahnya menggunakan perangkat lunak bajakan. berikut pendapat dari budi rahardjo:

Soal kenapa opensource kurang maju di Indonesia, bukan karena nggak ada duitnya. Di luar negeri juga sama seperti itu. Yang kurang adalah semangat dari kita-kita ini. Karena terlalu mudah pasang produk Microsoft (tanpa beli lisensi) maka kita tidak mendapat dorongan untuk menggunakan dan mengembangkan open source. Lupa dan tidak membuat strategi.

seperti yang telah dituliskan oleh priyadi dan amal, pemerintah memang harus memilih salah satu: bayar lisensi atau ganti pakai perangkat lunak alternatif, yang intinya sama saja seperti yang selalu didengungkan oleh judith ms: be legal! dan lebih baik kritik dialihkan dari sekedar bicara “pakai opensource” ke soal beratnya persyaratan yang diajukan oleh microsoft ke pemerintah dalam konsesi ini.

Read Full Post »

harley dan nalar

harleybeberapa hari terakhir ini milis itb diramaikan oleh diskusi mengenai gerombolan harley, yang ditulis oleh sarie febriane, dan juga counter tentang gerombolan harley tersebut, yang ditulis oleh zulfikar alamsyah. ada juga mail simpatik dari putra ariyavira, pengguna motor gede yang isinya balik melakukan counter terhadap counter.

yang menarik adalah isi surat pembelaan diri oleh si fikar ini. sangat menarik karena banyak yang mengabaikan nalar, dan karena mail si fikar sampai masuk ke milis itb yang notabene isinya kalau bukan engineers ya ahli dalam bidang sains yang sangat mengandalkan kemampuan berpikir berdasarkan logika dan nalar.

overheat
fikar:

Perlu dipahami bahwa sebelum bertemu dengan mobil si Ibu Sarie, rombongan kami kira kira juga telah antri dalam kemacetan kira kira 15 menit lamanya. Hal ini membuat mesin motor H-D menjadi panas, dan tentunya dikhawatirkan mesin dapat terjadi Over heating. Belum lagi setiap engine H-D dilengkapi dengan engine cut off yang dalam kondisi panas tertentu akan mati guna menghindari Over-Heating, jadi solusi yang terbaik adalah secepat mungkin motor dapat terhindar dari kemacetan dan melaju di jalan yang tidak terhambat, agar angin dapat segera mendinginkan mesin.

herry susanto dari milis itb membenarkan hal ini:

Ya ya saya tahu HD gampang overheat, boros, vibrasi gede (karena V-engine dengan pengapian yg di jejerkan – big-bang kata honda), …

namun menurut putra ariyavira:

Panas (ini karena motor besar bermesin lebih besar, dan seharusnya untuk kecepatan konstan yang relatif kencang, bukan kemacetan ala Jakarta).

irwan:

Mungkin karena mereka merasa mirip Lorenzo Lamas, jadinya mereka mau beli dan make HD 🙂
Tapi, kalau alasannya hanya karena panas lalu boleh make jalan sembaarngan, kayaknya gak boleh gitu dong.
Tapi, kalau aku punya uang sih, pengen juga beli HD :))

dari hasil googling, saya tidak menemukan keluhan tentang harley davidson yang mengalami overheat. satu-satunya tulisan yang berkorelasi dengan overheat mesin twin engine adalah soal modifikasi karburator harley:

The proper idle speed for Big Twin engines is 900-1000 RPMs. EVO oiling systems need better than 700 RPM to work properly. Resist the temptation to lower the idle excessively. It may sound good, but improper oiling will contribute to engine overheating while idling in traffic and premature engine failures.

jadi, pada keadaan normal, overheat seharusnya tidak terjadi, kecuali kalau memang karburator mesinnya sudah dimodifikasi dari keadaan standar, atau selama menunggu kemacetan motor harley-nya digas sampai meraung-raung.

selap-selip
fikar:

Lagi pula manfaat lain mengendarai motor adalah ketika macet motor lebih diuntungkan karena dapat menyelip diantara kendaraan mobil yang tersendat.

putra ariyavira:

Tidak bisa selap-selip seperti motor kecil, karena ukuran yang relatif besar.

bajajmenurut saya pribadi, anggapan harley bisa menyelip di antara kendaraan mobil yang tersendat itu persis seperti pikiran para pengemudi bajaj yang menganggap bajajnya bisa selap-selip di antara antrian kemacetan mobil. karena memang tidak cukup kecil, pasti tidak bisa selap-selip. satu-satunya yang membedakan antara bajaj dan harley hanyalah dari segi power, harley bisa ngebut, bajaj tidak. kesamaannya, selain merasa bisa selap-selip di antara mobil, antara lain sangat bising, dan emisi gas buangnya tidak ramah terhadap lingkungan.

bambang setyadji:

Kalau diterapkan berbagai regulasi emisi dan kebisingan… dijamin tidak ada HD yang lolos uji (barangkali ini juga sebabnya AS tidak mau melanjutkan Protokol Kyoto).

sopan
fikar:

Road Captain dan para asistennya menurut saya (pada waktu itu posisi saya kira2 urutan motor ke 5 setelah Road Captain / Pimpinan rombongan) bekerja dengan sopan meminta jalan kepada para pengendara mobil agar diberikan jalan untuk lewat terlebih dahulu. Tidak terlihat sedikit pun tindak-tanduk kasar kepada pengendara mobil maupun yang lain, apalagi dengan menggebrak kap mobil orang lain.

pada tanggal 5 februari 2005, saya sekeluarga menghadiri acara mantenan teman kantor saya di daerah puncak, tepatnya di wisma choolibah. sekitar pukul 14.00 dalam perjalan pulang kembali menuju jakarta, masih di kawasan puncak kita terjebak kemacetan. yang menarik adalah, ada rombongan harley dengan suara gas meraung-raung dan suara sirene yang membahana meminta antrian mobil yang macet untuk minggir ke kiri, agar mereka bisa dengan leluasa lewat. ternyata ini yang dimaksud dengan BEKERJA DENGAN SOPAN MEMINTA JALAN KEPADA PARA PENGENDARA MOBIL.

herry susanto:

Lho, di indonesia kan ada 3 golongan yang boleh melanggar lampu merah dan ngebut di jalanan tanpa ditangkap polisi :

  1. Rombongan Pejabat
  2. Rombongan Tentara
  3. Rombongan Harley

fau swasono:

Karena romb. no.3 = no.1 + no.2

irwan:

Kalau di Bandung, saya sih sering ngelihat mereka pakai jalur jalan yang berlawanan arah jika jalan yang searah sedang macet

Walaupun mereka menggunakan jalur jalan yang berlawanan arah, tapi Pak Polisi yang terhormat, pengayom masyarakat, gagah berani, ramah tamah dan rajin menanbung, malah memberikan mereka jalan.

Saya sih angkot-ers, jadi ya, bermacet-macetan ria 😛

satu meter
fikar:

Memohon kerelaan hati ibu Sarie untuk sedikit menepikan mobilnya pada waktu itu, malahan kebalikan yang kami hadapi–Sebenarnya kalau saja Ibu tersebut bisa berkata Jujur masih tersisa space hampir 1 meter mobil berbatas dengan Trotoar, dan tidak seperti yang ditulis* “Para pengendara itu dengan tangannya menyuruh saya lebih minggir ke kiri, padahal sisijalan sebelah kiri juga sudah mentok”*

sepanjang pengamatan saya, dalam keadaan kemacetan, adalah normal mobil menjaga jarak sekitar 1 meter dari trotoar, karena saya tahu persis motor-motor yang lebih kecil ketimbang harley (motor bebek, vespa, honda gl-pro dan lain-lain) masih bisa melewati sisi kiri saat kemacetan terjadi. ini sekaligus mematahkan argumen bahwa motor harley bisa selap-selip di antara mobil saat terjadi kemacetan lalu-lintas, karena kalau memang argumen tersebut benar, kenapa mereka tidak ikutan melalui jalur kecil yang dilalui oleh motor-motor biasa tersebut? tanya kenapa?

kaca spion
fikar:

Luapan emosi itulah yang mungkin di terima oleh ibu yang terhormat dari rekan-rekan bikers dengan sengaja menderu knalpot motor dan memang saya akui ada rekan kami yang membengkokkan spion Ibu ini namun tidak seperti yang ditulis di email yang sebelumnya bahwa *”salah seorang pengendaralain yang bertubuh gempal banget melayangkantangannya yang kekar ke arah saya yang masihmelongokkan kepala ke luar jendela sambil mendamprat. Saya pikir dia belagak ngancam mau nempeleng, rupanya spion mobil sayadigamparnya dengan kuat sampai terlipat ke arah Dalam”. . “Belagak ngancam mau nempeleng” dan ditambah lagi Spion digamparnya dengan kuat”* menurut saya sebagai orang yang berada dalam rombongan itu tidak benar adanya, yang ada adalah rekan kami tersebut menghampiri mobil ibu ini dan langsung menutup spion dan menurut saya hal ini dilakukan sebenarnya ia ingin mengatakan kepada ibu Sarie ini dengan bahasa tidak langsung -dan ini hanya interpretasi saya saja *” Hey Lady don’t do that coz you put us in danger”*(Baca: Ketika mobil diarahkan ke pengendara H-D)

tampaknya ini masih berhubungan dengan tata krama kesopanan yang disebut fikar di atas, yaitu melipat kaca spion itu adalah standar etika kesopanan mereka. mirip seperti tukang parkir yang melipat kaca spion mobil-mobil yang parkir paralel supaya tidak tersenggol oleh kendaraan yang (memaksa) lewat.

motornya berat!
fikar:

Perlu disadari bahwa motor H-D dengan type touring minimun beratnya kurang lebih sekitar 370Kg, dengan bobot seperti ini tentunya pengeraman juga jadi alasan utama mengapa Road Captain berusaha membuka/meminta jalan dari pengendara yang lain guna menjaga jangan sampai ada yang celaka pada Group selama berkendara, terutama jangan sampai mencederai orang atau kendaraan yang lain.

putra ariyavira:

1. Berat (makanya sesuaikan ukuran motor dengan ukuran badan dan tenaga)

4. Harus menempatkan dirinya sebagai ‘pengendara motor’, bukan ‘pengendara moge’.Nomor 4 inilah yang biasanya dilupakan pengendara motor tipe/merk tertentu. Menurut saya yang namanya motor itu apakah itu scooter, motor bebek, motor sport, atau pun motor cruiser, semuanya seharusnya kedudukannya sama. Terutama di jalan raya.

Mempunyai ukuran yang besar dan beramai-ramai bukan berarti bisa menguasai jalan, dan tentunya bukan berarti dapat memerintah orang lain untuk minggir.. Kalau menggunakan pengawal convoy (polisi) ya oke aja deh kalau harus minggir, tapi tentunya tidak pakai gebrak sana -pukul sini kan? Bkankah itu tindakan anarkis dan menjelekkan nama moge itu sendiri?

Selama saya menggunakan moge, saya berusaha untuk menempatkan diri saya untuk hanya menjadi ‘pengendara motor’, dan jujur aja itu tidak susah kalau Anda memang niat ingin naik motor karena hobi dan bukan karena ingin ‘gaya’.

Dan tentunya saya menerima kekurangan-kekurangan yang ada seperti panas, macet, dan berat (kalau memang nggak kuat dan capek, seharusnya jangan pakai motor itu kan? ya nggak? seharusnya ganti motornya yang sesuai dan jangan malah nyuruh minggir orang lain seenaknya).

Itu kenyataan yang ada di pemakaian moge sehari-hari, dan itu saya terima karena saya ingin dan enjoy naik motor, dan bukan karena ingin gaya naik moge.

Menurut saya para pengguna moge harusnya lebih mawas diri dan lebih peduli atas kelakuan mereka.

The Bigger The Power, The Bigger The Responsibility adalah yang harusnya dilakukan para pengendara moge. Ukuran besar dan kapasitas mesin yang besar justru membuat penggunanya harus lebih bertanggung jawab atas caranya membawa motor itu. Bukan berarti lebih bebas dan sewenang-wenang.

wikan:

lha iya, udah tahu motornya gede, menuh2-in jalan kalau rombongannya banyak
mesinnya punya masalah overheating segala macem
udah tahu jakarta macet masih aja maksain jalan2 di jakarta pake HD
kalau emang mau touring ke daerah bisa kan masukin aja HD-nya ke truk
tar kalau udah keluar dari jakarta dan gak macet lagi
tinggal dikeluarkan lagi dan bisa berkendara dengan nyaman
kalau niatnya gitu, tar Ananda Mikola pake mobil balapnya di jalan sudirman
terus ngebut dan alasannya, “wah kendaraan saya gak bisa dipake pelan2 sih mbak, soalnya kalau dipake pelan bisa meledak, jadi saya ngebut …”
terus kalau dikritik tar bilangnya “semoga pada akhirnya kita akan berkendara bersama”

hobi sih hobi, cuman kalau merugikan orang lain itu udah nggak lucu namanya
sama seperti hobi miara harimau terus dibawa jalan2 sambil nyakarin orang

tidak berpendidikan
fikar:

Kata kata diatas sepertinya ditulis oleh orang yang sangat tidak berpendidikan sama sekali, dan mohon maaf kabar yang saya dapat dari beberapa milist, saya sangat terkejut bahwa ternyata Ibu Sarie Vebriani “Katanya” adalah salah seorang wartawan di Surat Kabar yang sangat terkemuka di Indonesia. Apakah benar adanya, terus terang saya sendiri penasaran. Jika memang benar sangat disayangkan Surat kabar yang sangat terkemuka ini punya kualitas Wartawan kelas-Mohon maaf seribu maaf-“SANGAT BERLEBIHAN”.

sure buddy, SHOOT THE MESSENGER.

provokatif
fikar:

Terlebih lagi menurut saya semua sudah menyimpang jauh, dari highlights saya diatas isyu yang diangkat adalah kesenjangan sosial. Tulisan ini sifatnya sangat provokatif, dan hal ini sangat berbahaya.

fau swasono:

Satu lagi..
imel ibu Sarie itu hanyalah puncak gunung es dari akumulasi kejengkelan banyak pemakai jalan lainnya selama ini atas priviledge pemakai HD, padahal semua orang punya hak yang sama dalam hukum (ada gak sih di UU, Keppres, PP, Perda bahwa ada keistimewaan pemakai HD dibanding pemakai jalan lainnya?). Inget juga kasus pake jalur busway, dsb?

Makanya “sambutan” atas imel tsb jadi marak, berbagai kisah menjengkelkan lainnya pun dikeluarkan. Mestinya para bikers HD ini sadar dong. Apakah kalian selama ini mikir kalau orang2 lain melongo terkagum2 melihat kalian menjadi raja jalanan?
Wake up man! Lihat bagaimana orang lain melihat anda.

Mari kita bangun masyarakat yang saling menghargai,

salam,

fau

sumbangan kami
fikar:

Banyak hal hal yang positif yang mungkin saya bisa bagi kepada anda yang membaca email ini. Masih segar dalam ingatan saya ketika 3 hari setelah Iedul Fitri lalu saya berkesempatan diajak untuk touring bersama rekan kantor ke Surabaya untuk mengikuti “Pahlawan Tour” sesampainya disana kami mengikuti beberapa prosesi hari pahlawan dengan Hikmat dengan acara Upacara dan malam renungan di Tugu Pahlawan 10 November Surabaya. Semuanya itu dilakukan karena para bikers punya semangat kebangsaan yang tinggi dan bangga menjadi bangsa Indonesia.Di kota pahlawan itu pulalah mereka mengadakan acara penggalangan dana bagi mereka yang menjadi mendiang maupun keluarga yang ditinggalkan dan korban cacat perang dari para pahlawan 10 November dengan jalan melelang barang milik pribadi mereka pada saat itu juga.. Juga masih ada dalam ingatan saya bagaimana rekan rekan Bikers H-D berusaha mengumpulkan dana, baju bekas dll bagi mereka Fakir miskin ketika Lebaran hampir tiba. Dan masih banyak kegiatan positif lainnya yang sebenarnya tidak pernah diungkap.

dari situs air putih:

Barusan ada informasi dari kawan yang datang dari lokasi kalau pagi tadi (8 Januari 2006) polisi tidak membolehkan siapa saja naik ke atas. Akibatnya adalah kelompok RAUNG 4X4 jadi “mutung” dan balik ke Jember. Kelompok RAUNG 4X4 adalah kelompok bermobil gardan ganda yang membuka daerah-daerah terisolir karena bencana dari hari-hari pertama operasi sampai sekarang, sehingga bantuan dan pengungsian dapat dilakukan. Hari ini juga ada konvoi Harley Davidson ke atas. Sore hari penjagaan dilepas oleh polisi, jadilah “pasar malam bencana” oleh para “wisatawan bencana” dan tentu saja kemacetan oleh mobil-mobil “wisatawan bencana”

holid azhari:

Agak kocak juga ya pengendara HD “bikers” katanya ngumpulin pakaian bekas buat anak yatim?

kenapa ngga jualin HD nya saja dan ganti supra. akan ada ribuan anak yatim yang bisa ditolong, benar benar mengagumkan kita naik mercedes tapi nyumbang gopek?

umpan balik
fikar:

Bagi anda yang ingin mengirimkan email untuk bantahan atau masukan apapun silahkan mengirimkan email ke sapikayangan@yahoo.com

kurniantoro whs:

melihat replyan disini (red: milis itb) kayaknya bantahan mas Zulfikar ini jadi bumerang buat dirinya dan komunitas H-Dnya…

saya sendiri akan mengirimkan artikel ini ke saudara fikar, agar beliau bisa ikut menanggapi kompilasi tanggapan atas mail yang beliau tulis.

[UPDATE]

ajakan gerakan tutup hidung dari sarie febriane.

Read Full Post »