Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘mac’ Category

hari ini saya diminta tolong oleh rekan kerja saya untuk melakukan konversi berkas rekaman CCTV yang menggunakan berkas DV4. setelah saya coba cari menggunakan google serta mencoba-coba sendiri, tampaknya ffmpeg (sekarang diubah namanya menjadi avconv) maupun handbrake tidak mampu melakukan konversi/transcoding, padahal berkas yang sama bisa dimainkan dengan media player classic di windows.

hasil dari mediainfo menyatakan bahwa berkas tersebut menggunakan format AVC:

mediainfo DV4

percobaan transcoding menggunakan ffmpeg maupun handbrake menghasilkan berkas yang terlalu kecil. hasil pencarian google juga tidak menunjukkan hal yang jelas, dan karena sudah menjelang pulang kantor, akhirnya saya putuskan untuk menggunakan aplikasi windows (gratis) yang bernama Super®.

super

tujuan saya menggunakan Super® adalah melakukan konversi berkas DV4 ke dalam format yang lebih mudah ditangani, dalam hal ini saya memilih MP4. dengan memilih Output Container MP4 lalu centang Stream Copy agak tidak perlu melakukan transcoding atas format yang pada dasarnya sudah AVC, Super® menghasilkan berkas MP4 yang lebih mudah saya kelola dengan default framerate 25 FPS.

Screen Shot 2013-05-31 at 5.31.55 PM

sekarang saya bisa langsung menggunakan ffmpeg/avconv untuk memotong-motong video (misalnya mulai dari menit 12 detik 49 selama 3 menit: ffmpeg -i input.mp4 -ss 00:12:49 -t 00:03:00 output.mp4), dan menggunakan mmg dari paket mkvtoolnix untuk melakukan penggabungan video sekaligus mengubah framerate sesuai dengan hasil rekaman asli CCTV tadi, setelah saya coba-coba angka yang cocok adalah 10 FPS.

Screen Shot 2013-05-31 at 5.44.45 PM

dari hasil penggabungan itu didapatkan berkas mkv (matroska), yang kemudian saya konversi kembali ke mp4: ffmpeg -i input.mkv -vcodec copy output.mp4. voila! berkas DV4 berhasil saya ubah ke MP4 tanpa sekalipun melakukan transcoding yang memakan waktu, sehingga semua proses di atas bisa dilakukan dengan cepat, dan semuanya menggunakan aplikasi non komersial alias tidak berbayar. anyway, di bawah adalah hasil videonya, rekaman pasangan maling yang menyaru seolah-olah calon penyewa apartemen rekan kantor namun lalu mencuri isi apartemen seperti TV, tabung gas, peralatan makan dan lain-lain.

Iklan

Read Full Post »

selamat jalan, Steve

Thanks Steve

image by Jonathan Mak Long


hari ini, atau 5 oktober 2011 waktu amerika, Steve Jobs yang lebih dikenal sebagai pendiri Apple, meninggal di usianya yang ke 56. saya tidak pernah bicara dengan beliau, bentuk kontak yang ada hanyalah lewat berbagai produknya yang telah saya pakai. namun berbeda dengan produk lain, produk dari Apple ini membekas di dalam hati, dan pada akhirnya membuat saya merasa kehilangan ketika mendengar berita Jobs telah tutup usia.

saya pertama kali melihat produk Apple adalah di laboratorium komputer jurusan Informatika ITB, berupa sebuah Macintosh Classic. dan seperti pada umumnya mahasiswa yang seumur hidupnya cuma pernah mengenal IBM PC compatible, hal paling pertama yang ditanyakan adalah bagaimana cara menyalakannya. dan ternyata jawabannya pun membuat saya lumayan takjub waktu itu: bisa dinyalakan langsung lewat keyboard-nya. takjub karena buat orang yang sudah terbiasa mencari tombol on/off di badan komputernya, menyalakan komputer langsung dari keyboard selain merupakan hal yang tidak biasa, juga merupakan sebuah kepraktisan tersendiri. dan Steve Jobs memang dikenal suka mendesain produknya secara sederhana dan elegan.

pengalaman unik tersebut tidak serta merta membuat saya memakai produk Apple. status sebagai mahasiswa yang belum berpenghasilan, sementara hampir tidak ada produk Apple yang bisa dibilang murah, serta praktis tidak ada kebutuhan untuk memakai sebuah Mac di perkuliahan membuat produk Apple hanyalah sebuah produk eksklusif dan mahal di mata saya waktu itu.

sampai akhirnya saya bekerja pun, notebook pertama yang saya beli adalah sebuah IBM Thinkpad X20 bekas. produk Apple yang akhirnya pertama kali saya beli adalah iPod Nano generasi pertama, dengan ukuran 4 GB. pertimbangan saya dahulu adalah harga flash memory di akhir tahun 2005 masih mahal, namun harga iPod Nano ini bisa dibilang lebih murah ketimbang membeli USB flashdisk ukuran 4 GB di waktu itu. jadilah saya pertama kali memiliki sendiri sebuah produk Apple, yang ternyata bukanlah sebuah awal yang baik, karena casing ipod nano generasi pertama itu terkenal sangat mudah tergores. hanya dalam waktu dua minggu iPod Nano saya sudah baret-baret, sementara mencari casing pelindung untuk sebuah produk yang baru pertama kali muncul bukanlah hal yang mudah.

namun ternyata saya tidak kapok. di tahun 2006, melihat ada yang menawarkan sebuah iBook 800 Mhz bekas dengan harga yang lumayan terjangkau, saya putuskan untuk membelinya. saya masih ingat perjalanan pulang dari Mal Taman Anggrek menggunakan motor GL Pro dengan kardus iBook yang saya letakkan di atas tangki motor, dan pegangannya saya ikat ke badan supaya tidak jatuh. dari sinilah saya belajar menggunakan antarmuka grafis Mac OS X, yang diperkuat dengan akses langsung ke CLI (command line interface) melalui aplikasi Terminal. bisa dibilang saya lebih banyak belajar tentang CLI di mac ketimbang di linux ataupun di windows, padahal Mac lebih dikenal dengan GUI (graphical user interface) yang indah. akses mudah ke CLI ini yang saya duga membuat banyak programmer, seperti saya, suka menggunakan Mac.

belakangan saya memiliki berbagai macam produk Apple. ciri khusus dari semua produk Apple adalah sederhana dan elegan. belum pernah saya menemukan komputer desktop ataupun notebook dengan tombol maupun lampu indikator yang lebih sedikit ketimbang keluaran Apple. orang mungkin akan mencibir melihat sebuah smartphone ataupun tablet dengan hanya satu tombol dan tanpa keyboard sama sekali, namun seperti kata Steve Jobs, kebanyakan orang tidak tahu apa yang mereka mau sampai diperlihatkan barangnya.

saya bahkan pada awalnya termasuk yang tidak mau membeli iPad, karena saya tidak tahu mau dipakai buat apa. namun ketika pada sebuah acara keluarga melihat para keponakan menggunakan iPad untuk bermain game, yang jauh lebih interaktif dan batere tahan lama ketimbang game device khusus seperti PSP, saya akhirnya membeli sebuah iPad juga. memang benar kata Steve, akhirnya saya tahu apa yang saya mau setelah diperlihatkan sendiri penggunaannya.

melihat berbagai kesuksesan Apple di bawah pimpinan Steve Jobs, membuat saya melontarkan kekhawatiran saya di tahun lalu: apakah Apple akan tetap bisa sukses tanpa Steve? kini beliau sudah berpulang, akan kita lihat apakah Apple akan tetap bisa mengeluarkan produk sehebat seperti sewaktu Steve masih ada.

selamat jalan, Steve.

Read Full Post »

artikel tahun 2008 saya tentang triple boot di macbook ternyata tidak berlaku untuk macbook air 13″ (MBA) yang baru saya beli. problem utamanya adalah jika sudah ada partisi bootable selain Mac OS X pada media penyimpan internal, dalam hal ini SSD MBA, walaupun di layar rEFIt sudah memilih USB installer OS yang lain, MBA akan selalu boot ke partisi bootable internal tadi. ini menyebabkan jika saya sudah install Windows 7 misalnya ke MBA, maka saya tidak bisa install Linux; demikian juga sebaliknya, jika saya sudah install Linux, maka saya tidak bisa install Windows.

solusi yang saya temukan setelah googling juga kebanyakan menyarankan untuk menggunakan USB superdrive yang dijual Apple khusus untuk MBA, namun setelah 5 hari mengutak-utik, akhirnya saya menemukan ide untuk melakukan chainloading. awalnya saya mencoba chainloading dari instalasi ubuntu yang sudah ter-install ke USB installer windows, hasilnya adalah USB installer windows bisa berjalan, windows bisa terinstall, namun setelah itu tidak bisa boot baik ke windows maupun linux.

setelah prosesnya dibalik, install windows terlebih dahulu, pasang chainloading ke USB installer ubuntu dengan bantuan easyBCD, akhirnya saya bisa membuat MBA 2010 saya bisa triple boot tanpa perlu mempergunakan USB superdrive. langkah-langkah selengkapnya sudah saya tulis di blog yangcanggih.com.

Read Full Post »

usaha saya melakukan instalasi windows 7 di iMac 27″ core i5 di rumah, selalu gagal saat reboot kedua proses instalasi; layar selalu blank sehabis menampilkan logo startup windows.

iMac generasi terbaru sekarang mempunyai DisplayPort yang berfungsi ganda: menambahkan layar eksternal yang bisa dipergunakan oleh iMac, atau membuat layar iMac bisa dipergunakan oleh sebuah mac yang lain (misalnya MacBook menggunakan layar iMac). rupanya ini yang menyebabkan layar blank; driver windows menganggap layar yang aktif adalah DisplayPort, sehingga layar di iMac menjadi blank. ini tentu saja tidak menjadi problem jika ada monitor eksternal yang sedang ditancapkan ke iMac, namun saya saat ini belum punya monitor eksternal tersebut.

untuk mengatasinya, ikuti langkah-langkah berikut:

  1. instalasi terlebih dulu boot manager refit. sebenarnya ini tidak wajib, namun refit sangat mempermudah dalam melakukan pilihan booting, setiap kali boot akan tampil pilihan menu apakah boot ke mac, windows, cd instalasi, atau jika ada, boot lewat bootable USB device.
  2. boot dengan DVD installer windows 7 (atau jika ada, lewat USB installer). ikuti langkah-langkah instalasi di layar.
  3. saat proses instalasi melakukan reboot yang pertama kali, biarkan iMac booting melalui partisi windows di harddisk internal. diamkan saja proses instalasi tetap berlanjut, sampai nanti dia akan melakukan reboot lagi.
  4. saat proses instalasi melakukan reboot yang kedua, paksa iMac melakukan booting ke DVD installer windows 7 (atau USB installer). setelah memilih bahasa dan klik Next, pilih Repair your computer.
  5. windows akan melakukan scanning partisi; pilih partisi yang baru saja di-install windows 7 tadi, lalu klik Next.
  6. pada layar System Recovery Options, klik pilihan yang paling bawah: Command Prompt.
  7. dalam Command Prompt, pindah dulu ke drive C: dengan mengetikkan c:<enter>, lalu pindah ke folder driver dengan mengetikkan cd Windows\System32\drivers<enter>
  8. sekarang tergantung pada kartu grafis iMac anda. jika menggunakan NVidia, ketikkan perintah del nvlddmkm.sys<enter>; jika menggunakan ATi, ketikkan perintah del atikmdag.sys<enter>. kalau anda tidak tahu iMac anda menggunakan kartu grafis apa, hapus kedua file tersebut dengan mengikuti dua petunjuk tadi.
  9. setelah berhasil, keluar dari Command Prompt dengan mengetikkan perintah exit<enter>.
  10. klik tombol Restart, dan kali ini pilih boot lewat partisi windows di harddisk. jika langkah-langkah sebelumnya dijalankan dengan benar, seharusnya boot kali ini layar iMac tidak akan blank, dan anda bisa melanjutkan proses instalasi.

karena driver untuk kartu grafis dihapus, proses instalasi akan berlanjut dengan resolusi layar paling rendah, 640×480. ini bukan merupakan problem, anda tinggal memasukkan dvd instalasi leopard setelah proses instalasi windows 7 selesai, dan melanjutkan dengan melakukan instalasi driver boot camp. jika anda masih menggunakan boot camp 3.0, segera lakukan update ke boot camp 3.1.

referensi

Read Full Post »

di milis id-mac hari ini muncul sebuah pertanyaan:

Mau nanya, saya ada buat bootcamp dengan alokasi untuk bootcampnya jadi 32GB. Ternyata setelah di install jendela dan bbrp sw yg khusus jendela, spacenya kurang. Apa partisinya bisa di tambah? Kalau bisa caranya bagaimana ya? Atau harus di partisi ulang, yg berarti harus install jendela semua dari awal?
Tolong pencerahannya dan terima kasih sebelumnya.

pertama, disclaimer. cara yang akan saya tuliskan di bawah ini menuntut pengetahuan pemakaian terminal, dan juga familiarity dengan linux ubuntu. jadi kalau tidak pernah main-main dengan terminal, lebih baik berhenti membaca.

kalau ternyata tulisan saya masih dibaca, disclaimer sekali lagi: saya tidak bertanggung-jawab atas kerusakan/kehilangan data yang mungkin terjadi. akan sangat lebih baik anda backup dulu semua data anda (baik mac maupun windows).

hal-hal yang dibutuhkan:

  • sebuah livecd ubuntu, yang dipakai dalam tutorial ini adalah versi 9.04 alias ubuntu jaunty
  • aplikasi refit, untuk memunculkan boot menu

yang pertama perlu dilakukan adalah memperkecil partisi mac. ini dicapai dengan cara:

  1. boot ke mac
  2. buka terminal
  3. ketik perintah “diskutil list“. ini contohnya di macbook saya:
    $ diskutil list
    /dev/disk0
      #:                       TYPE NAME                    SIZE       IDENTIFIER
      0:      GUID_partition_scheme                        *232.9 Gi   disk0
      1:                        EFI                         200.0 Mi   disk0s1
      2:                  Apple_HFS Scorpio                 190.0 Gi   disk0s2
      3:       Microsoft Basic Data WinBook                 33.4 Gi    disk0s3
  4. yang perlu dicatat adalah nama device tempat partisi “Apple_HFS” berada. pada contoh di atas, berarti ada pada “/dev/disk0s2
  5. langkah berikutnya adalah mencari tahu batasan seberapa besar partisi tersebut bisa di-resize, dengan mengetikkan perintah “diskutil resizeVolume /dev/disk0s2 limits“. ganti “/dev/disk0s2” sesuai dengan catatan di #4. hasilnya kira-kira seperti ini:
    $ diskutil resizeVolume /dev/disk0s2 limits
    For device disk0s2 Scorpio:
           Current size:   204010946560 bytes
           Minimum size:   153055330304 bytes
           Maximum size:   204010946560 bytes
  6. dari hasil #5, bisa dilihat partisi mac masih bisa diperkecil sampai dengan kira-kira 150-an GB (tapi ini sangat tergantung pada kondisi fragmentasi hdd anda). misalnya saat ini partisi mac anda adalah seperti di atas, dan anda ingin menambahkan sekitar 20 GB untuk partisi windows, maka anda butuh menciutkan partisi mac sebesar 20 GB, dengan perintah seperti ini: “diskutil resizeVolume /dev/disk0s2 180G“, sesuaikan nama partisi dan besar partisi yang diinginkan dengan kebutuhan anda
  7. jika #6 berhasil dilakukan sampai selesai, silakan restart mac anda, lalu skip ke #9. lama proses tergantung pada besar data yang dipindahkan, saya pernah menciutkan partisi sebesar 60 GB memakan waktu sekitar 5 jam
  8. jika gagal, berarti partisi mac anda mengalami fragmentasi dan ada file-file yang terletak di ujung luar partisi yang tidak bisa dipindahkan oleh diskutil. saya tidak akan membahas ini, yang bisa saya bantu hanyalah gunakan aplikasi defrag seperti iDefrag untuk melakukan defragmentasi (harus boot pakai cd iDefrag), atau coba lakukan resizing volume ini melalui dvd installer leopard
  9. jika proses resize telah berhasil, saya sarankan untuk menginstall aplikasi refit, agar saat boot kita bisa memilih mau boot ke partisi mana (refit bahkan bisa dipergunakan untuk boot ke external device)

demikian langkah untuk memperkecil besar partisi mac. langkah berikutnya adalah memperbesar partisi windows dengan memanfaatkan ruang kosong yang tersedia akibat proses penciutan partisi mac tadi:

  1. masukkan livecd ubuntu ke dalam mac anda. reboot, dan saat refit muncul, pilih boot dari cd ubuntu tersebut. jika anda menggunakan macbook/mbp, disarankan untuk memasang USB mouse, karena trackpad mac di ubuntu terasa aneh pemakaiannya (terlalu sensitif, gampang terjadi salah klik)
  2. setelah masuk ke desktop ubuntu, klik menu System – Administration – Partition Editor
  3. cari partisi windows anda. biasanya ditandai dengan dengan label/bingkai (frame) warna hijau dan pada kolom “File System” tertulis “ntfs“. kalau langkah-langkah sebelumnya dijalankan dengan benar, seharusnya di sebelah kiri blok partisi windows tersebut ada “ruang kosong”, hasil penciutan partisi mac anda. klik kanan partisi windows ini, klik “Resize/Move“, lalu perbesar partisi ini sesuai dengan ruang kosong yang ada tadi, lalu klik tombol “Resize/Move“. klik tombol “Apply” yang ada di atas. tunggu proses resize selesai

voila, partisi windows anda sudah bertambah besar! sekarang shutdown desktop livecd ubuntu anda, lalu coba boot ke mac atau ke windows.

Read Full Post »

begitu ada berita bahwa google merilis chrome di mac, saya segera mengunduh dan mencobanya. tulisan ini saya buat dengan browser chrome di mac, dan untuk versi development, sudah lumayan bagus, walaupun ada beberapa bug seperti yang terlihat di bawah ini:
chrome on mac

Read Full Post »

semalam selagi iseng mencari solusi sinkronisasi address book di ubuntu, saya malah baru mendapatkan informasi kalau address book di leopard sudah bisa sinkron dengan yahoo, dan khusus untuk 10.5.3, sudah bisa sinkron dengan google dengan sedikit trik (ya, saya basbang).

untuk sync dengan yahoo amat mudah, tinggal aktifkan aplikasi address book, buka preferences (klik Address Book pada menu bar, lalu klik Preferences…), lalu centang Synchronize with Yahoo!, lalu klik tombol Yahoo…, isikan informasi account yahoo anda.

fasilitas sinkronisasi dengan google sebenarnya dikhususkan untuk pengguna iphone dan ipod touch, namun dengan sedikit hacking, fasilitas ini bisa digunakan bagi yang tidak memiliki iphone/ipod touch. berikut langkahnya:

  1. buka terminal, lalu pindah ke folder ~/Library/Preferences/.
  2. lakukan backup file com.apple.iPod.plist:
    cp com.apple.iPod.plist ~/Desktop
  3. konversi file tadi ke file teks:
    plutil -convert xml1 com.apple.iPod.plist
  4. edit file tersebut dengan teks editor, saya sendiri menggunakan smultron:
    smultron com.apple.iPod.plist
  5. salin bagian yang berisi informasi tentang ipod, kira-kira yang harus disalin adalah seperti ini:
    		<key>000A27001B4568FA</key>
    		<dict>
    			<key>Connected</key>
    			<date>2008-06-05T11:35:50Z</date>
    			<key>Device Class</key>
    			<string>iPod</string>
    			<key>Family ID</key>
    			<integer>9</integer>
    			<key>Firmware Version</key>
    			<integer>318</integer>
    			<key>Firmware Version String</key>
    			<string>1.1.3</string>
    			<key>ID</key>
    			<string>000A27001B4568FA</string>
    			<key>Serial Number</key>
    			<string>YM6496JLX9A</string>
    			<key>Software Version</key>
    			<integer>135495680</integer>
    			<key>Updater Family ID</key>
    			<integer>19</integer>
    			<key>Use Count</key>
    			<integer>46</integer>
    		</dict>

    sisipkan tepat di bawah baris </dict> tadi, lalu ubah sedikit baris paling atas <key> ke angka yang sedikit berbeda (dari 000A27001B4568FA ke 000A27002B4568FA misalnya), dan ubah Family ID (dalam contoh angka 9) ke 10001.

  6. simpan file tersebut, lalu konversi balik ke bentuk semula:
    plutil -convert binary1 com.apple.iPod.plist
  7. sekarang buka address book, masuk ke menu preferences, lalu centang Synchronize with Google, lalu klik tombol Google…, isikan informasi account google anda
  8. seharusnya sekarang address book sudah bisa disinkronisasi dengan google 🙂

semua langkah di atas berjalan di mac os x leopard 10.5.3, dan sinkronisasinya menggunakan aplikasi iSync.

Read Full Post »

Older Posts »